Bunga hanya melambai lambai
Keindahannya mampu didekati para lebah
Gagah berani yang pantas memperoleh madunya
Andai saja
Bunga itu mampu bergerak
Mendekati lebah
Yang ternyata mereka terpaut perasaan
Yahh...
*apa sih ?
Suatu hari, ketika ia sedang berkeliling menjajakan dagangannya, tiba-tiba ada seorang wanita memanggilnya. Ia pun segera menghampiri. Wanita ini menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Rumah itu sangat mewah. Agaknya wanita itu termasuk golongan bangsawan. Begitu masuk rumah, dengan sebuah kelihaian wanita itu bisa mengunci pintu. Wanita itu sangat terpesona dengan ketampanannya. Wanita itu telah lama tergila-gila padanya. Sudah berkali-kali diam-diam wanita itu memandangi ketampanannya ketika pemuda itu lewat di depan rumahnya.
Saat itu ada pemuda yang bertempat di sebuah kamar dalam masjid. Sudah dua hari berlalu tanpa ada makanan yang dapat dimakannya. Dia tidak mempunyai makanana ataupun uang untuk membeli makanan. Saat datang hari ketiga dia merasa bahwa dia akan mati, lalu dia berfikir tentang apa yang akan dilakukan. Menurutnya, saat ini dia telah sampai pada kondisi terpaksa yang membolehkannya memakan bangkai atau mencuri sekadar untuk bisa menegakkan tulang punggungnya. Itulah pendapatnya pada kondisi semacam ini.
Sudahlah…
Mungkin bukan bakatku untuk membuat orang tertawa dengan canda ku di dalam kelas.
Setiap ku bergurau, selalu terdengar krik.. krik.. krik.. (garing), atau ‘woo, lucu !’.
Kau sajalah yang bergurau teman…
kau, yang menyuraki celotehanmu, lebih pantas yang bergurau…
aku tak mahir... aku kalah...
aku hanyalah sebagai orang yang tertawa saja, bukan orang yang membuat orang lain tertawa…
kau lebih master lagi kawan, aku tidak akan berguau lagi…
kau hebat… :-)
Mungkin disini nggak akan ada yang baca. Walaupun percuma, setidaknya ungkapan hatiku bisa dikeluarin.
Aku akan berhenti mencintaimu, karena aku tahu kamu membenciku. Saat ada orang lain berkicau tentang diriku dan dirimu, pasti kamu akan sangat membenci diriku.
Aku mengerti perasaanmu. Aku hanyalah objek yang egois.
Aku harus menjalani aktivitas sehari-hari dengan penuh tujuan hidup.
Tapi aku berharap tidak selamanya , mungkin suatu saat nanti akan muncul lagi, dengan waktu yang indah yang telah ditetapkan oleh-Nya. Semoga engkaupun begitu.
Aku, manusia bodoh . . .


